BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Singaraja Literary Festival 2025: Napas Baru untuk Warisan Lama

Suasana diskusi sastra di bawah rindangnya pohon kamboja dalam rangkaian Singaraja Literary Festival 2024 di halaman Gedong Kirtya, Singaraja. Festival ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi dalam menghidupkan kembali warisan lontar melalui sastra dan seni kontemporer. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Singaraja kembali menjadi episentrum dialog budaya dan sastra dengan digelarnya Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, sebuah perayaan literasi yang menghidupkan kembali khazanah lontar Bali dalam bentuk-bentuk baru yang segar dan relevan. Mengangkat tema “Buda Kecapi”, festival ini mengusung semangat penyembuhan melalui harmoni antara sastra, seni, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Festival yang digagas oleh Kadek Sonia Piscayanti ini memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya. Bertempat di Gedong Kirtya, situs literasi bersejarah di Singaraja, SLF 2025 akan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai 25 hingga 27 Juli 2025, menghadirkan lebih dari 60 program yang menjembatani warisan budaya dengan ekspresi kontemporer.

“Tema Buda Kecapi kami pilih karena relevansinya dengan kondisi sosial hari ini—di mana terjadi krisis identitas dan keterputusan dengan akar budaya. Sastra bisa menjadi ruang penyembuhan,” ujar Sonia dalam konferensi pers di Kedai Kopi deKakiang, Buleleng (22/7).

Festival ini menyuguhkan berbagai kegiatan mulai dari lokakarya melukis lontar (prasi), penulisan kreatif, diskusi panel, peluncuran buku, hingga pertunjukan teater dan film pendek. Program-program tersebut dirancang sebagai bentuk alih wahana, yakni mengalihbahasakan nilai-nilai lama ke dalam ekspresi seni modern.

SLF 2025 tak hanya menghadirkan seniman lokal, tetapi juga tokoh sastra dan budaya ternama, baik nasional maupun internasional. Di antaranya, Ratih Kumala (penulis Gadis Kretek), Dee Lestari (Aroma Karsa, Supernova), Henry Manampiring (Filosofi Teras), Oka Rusmini, Andre Syahreza, Esha Tegar Putra, Putu Fajar Arcana.

Sementara dari mancanegara hadir Sanne Breimer (Belanda), Inderjeet Mani dan Sudeep Sen (India), serta Lucy Marinelli (Italia-Australia).

SLF 2025 juga menjadi bagian dari program nasional dalam pemajuan kebudayaan, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Program Manajemen Talenta Nasional (MTN) turut hadir dalam festival ini, menjaring dan mengembangkan talenta muda dalam bidang sastra lewat pelatihan dan pembinaan.

Festival ini tak hanya memperkuat posisi Singaraja dalam peta sastra nasional, tetapi juga mentransformasi Gedong Kirtya dari sekadar ruang penyimpanan manuskrip menjadi panggung hidup yang membuka ruang diskusi dan interpretasi budaya.

Sonia dan timnya berharap SLF menjadi ruang dokumentasi dan perlawanan terhadap pelupaan budaya. Sebagaimana ditegaskan penyair Made Adnyana Ole, “Lontar bukan sekadar warisan, tapi cermin. Dan lewat cermin itu, kita bisa mengenali diri sendiri hari ini.”

SLF 2025 bukan sekadar festival, tetapi panggilan bagi siapa saja yang peduli untuk menyambung ingatan masa lalu ke masa depan—dengan membaca, menulis, berdialog, dan bergerak. Festival ini adalah ruang bagi kesadaran, bukan sekadar tontonan. Ndra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *