BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Singaraja Ditetapkan sebagai Kota Pusaka, Bupati Sutjidra Siapkan Langkah Penataan Heritage

Bupati Bueleleng I Nyomn Sutjidra mengikuti Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Tahun 2025 di Yogyakarta, Rabu (6/8). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Komitmen Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, untuk mempertahankan Singaraja sebagai Kota Pusaka kembali ditegaskan dalam forum nasional. Hal ini disampaikan langsung saat ia menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, Rabu (6/8/2025). Dalam kesempatan itu, Sutjidra mengumumkan rencana penataan kawasan heritage Singaraja yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

JKPI adalah organisasi yang beranggotakan 75 pemerintah kota dan kabupaten di Indonesia yang memiliki warisan budaya dan alam. Rakernas tahun ini berlangsung dari 5 hingga 9 Agustus 2025, dengan Kota Yogyakarta sebagai tuan rumah.

Menurut Bupati Sutjidra, Singaraja tidak hanya kaya akan peninggalan sejarah, tetapi juga memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa, khususnya di Bali. Kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Buleleng di bawah Raja Panji Sakti, serta mencatat sejarah sebagai Ibu Kota Provinsi Soenda Ketjil pada awal masa kemerdekaan.

“Buleleng punya peninggalan seperti Museum Gedong Kertya, Puri Kerajaan, Pelabuhan Tua Buleleng, termasuk rumah Ibunda Bung Karno. Nah, warisan-warisan itu yang harus kita jaga dan lestarikan. Dalam waktu dekat, kami juga akan menata kawasan heritage di Kota Singaraja,” jelasnya.

Singaraja juga dikenal sebagai pelabuhan penting pada masa kolonial Belanda. Jejak sejarah itu masih bisa dilihat dari berbagai bangunan tua yang hingga kini masih berdiri dan menjadi saksi bisu perjalanan kota.

Melalui forum JKPI, Sutjidra berharap dapat memperkuat sinergi antardaerah, saling bertukar pengalaman dan mencari referensi terbaik dalam pelestarian kawasan pusaka. Ia menegaskan, menjaga kota pusaka bukan hanya soal melestarikan bangunan, tetapi juga semangat dan nilai budaya yang diwariskan.

Di sisi lain, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya mengungkapkan tantangan yang dihadapi pemerintah daerah dalam upaya pelestarian kota pusaka. Salah satunya adalah adanya pergeseran nilai akibat perkembangan sosial ekonomi masyarakat.

“Pelestarian terhadap warisan budaya dan sejarah itu bukan hanya sekadar mempertahankan fisik, tetapi bagaimana kita bisa melestarikan nilai-nilai luhur dari warisan tersebut sampai ke generasi yang akan datang,” tegas Sri Sultan.

Ia berharap Rakernas JKPI ini dapat menjadi ruang refleksi dan evaluasi terhadap efektivitas strategi pelestarian kota pusaka yang telah diterapkan di berbagai daerah. (ndra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *