BULELENG (terasbalinews.com) – Cuci darah (hemodialisa) kini menjadi salah satu layanan kesehatan dengan beban pembiayaan terbesar di Kabupaten Buleleng. BPJS Kesehatan Cabang Singaraja mencatat, sepanjang 2024, biaya klaim untuk pasien gagal ginjal kronis menembus Rp41,17 miliar, menjadikannya pembiayaan terbesar kedua setelah penyakit katastropik lainnya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Singaraja, Joys Karman Nike Palupi, menegaskan bahwa gagal ginjal termasuk kategori penyakit katastropik yang seluruh biayanya ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Pada tahun 2024, tindakan hemodialisa tercatat sebagai layanan dengan klaim pembiayaan terbesar kedua,” ujarnya, Senin (16/9).
Tren pembiayaan cuci darah terus naik dalam lima tahun terakhir. Tahun 2020, ada 594 pasien dengan 40.409 kali tindakan, menelan biaya Rp33,86 miliar. Angka itu naik di 2021 menjadi 611 pasien dengan 40.415 kali tindakan dan klaim Rp34,25 miliar. Tahun 2022 lebih tinggi lagi, 627 pasien menjalani 42.270 kali cuci darah dengan klaim Rp36,09 miliar. Sementara di 2023, pasien bertambah menjadi 699 jiwa dengan 46.384 tindakan, dan klaim mencapai Rp38,51 miliar.
Puncaknya terjadi pada 2024, dengan 740 pasien menjalani 49.527 kali cuci darah. Klaim pembiayaan melonjak hingga Rp41,17 miliar. Bahkan hingga Mei 2025 saja, tercatat sudah ada 19.082 layanan cuci darah dengan klaim Rp15,89 miliar.
“Rata-rata ada sekitar 400 orang per bulan yang menjalani cuci darah, dengan frekuensi dua kali seminggu di rumah sakit,” jelas Joys.
Lima rumah sakit rujukan di Buleleng yang menyediakan layanan cuci darah yakni RSUD Buleleng, RSU Karya Dharma Husada, RSU Parama Sidhi, RS Balimed, dan RS Kertha Usada.
Tak hanya lansia, pasien cuci darah di Buleleng juga banyak berasal dari usia produktif. Data 2024 menunjukkan, ada 185 pasien berusia 15–45 tahun. Kelompok usia 41–45 tahun mencatat jumlah terbanyak (64 pasien), disusul usia 36–40 tahun (45 pasien), usia 31–35 tahun (31 pasien), dan bahkan ada 18 pasien berusia 21–25 tahun yang sudah harus cuci darah seumur hidup.
“Ada yang masih muda sudah harus cuci darah, terutama di usia produktif. Faktor utamanya penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes yang berujung gagal ginjal,” terang Joys.
Ia menegaskan, meski biaya terus meningkat, BPJS Kesehatan tetap berkomitmen menjamin seluruh layanan cuci darah peserta JKN. “Prinsip pembiayaan JKN itu gotong royong. Selama dananya tersedia, tentu BPJS akan menjamin. Namun kepatuhan peserta membayar iuran sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pembiayaan ini,” tutupnya. (ndr)













