DENPASAR (terasbalinews.com). Di tengah mulai normalnya aktivitas ekonomi setelah periode puncak kunjungan wisatawan, masyarakat justru semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan.
Sinyalnya terlihat dari kenaikan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Bali yang meningkat dari 128,17 pada Agustus 2026 menjadi 130,33 pada September 2026. Secara bulanan, indeks tersebut tumbuh 1,69 persen.
Kenaikan IEK menunjukkan masyarakat masih percaya diri terhadap prospek penghasilan, kesempatan kerja, dan kegiatan usaha. Tiga indikator tersebut seluruhnya berada pada level optimistis, bahkan indeks perkiraan kegiatan usaha menjadi yang tertinggi dengan skor 131,50.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, peningkatan ekspektasi konsumen menunjukkan masyarakat masih melihat prospek ekonomi Bali secara positif.
“Peningkatan terutama terjadi pada komponen perkiraan penghasilan, perkiraan ketersediaan lapangan kerja dan perkiraan kegiatan usaha,” kata Achris dalam siaran persnya, Selasa (20/10/2026).
Secara rinci, indeks perkiraan penghasilan tercatat 129,0, sementara perkiraan ketersediaan lapangan kerja mencapai 130,50. Adapun perkiraan kegiatan usaha berada pada level 131,50.
Angka-angka tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Bali. Sebab, ketika masyarakat semakin yakin terhadap penghasilan dan lapangan kerja, keyakinan untuk melakukan konsumsi dan aktivitas ekonomi juga berpotensi tetap terjaga.
Optimisme tersebut semakin menarik jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini. Pada September, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali memang sedikit turun dari 123,08 menjadi 122,75.
Namun, angka tersebut masih jauh di atas ambang optimistis 100 dan tetap lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang berada di level 118,10.
Penurunan IKK terutama dipengaruhi oleh melemahnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), yang turun dari 118,0 pada Agustus menjadi 115,17 pada September atau berkurang 2,40 persen secara bulanan.
Pelemahan itu antara lain tercermin dari persepsi masyarakat mengenai ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya yang berada di level 123,0. Indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya tercatat 122,00, sedangkan indeks konsumsi barang tahan lama berada di level 100,50.
Dengan demikian, terdapat perbedaan menarik antara persepsi masyarakat terhadap kondisi saat ini dan harapan mereka terhadap masa depan. Kondisi ekonomi yang dirasakan saat ini memang sedikit melandai, tetapi ekspektasi terhadap enam bulan mendatang justru semakin menguat.
Fenomena tersebut dinilai berkaitan dengan normalisasi aktivitas ekonomi setelah periode puncak kunjungan wisatawan pada Agustus. Meski aktivitas mulai kembali ke pola normal, sektor pariwisata masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Bali.
Aktivitas wisatawan memberikan dampak berantai terhadap perdagangan, transportasi, akomodasi, hingga berbagai sektor jasa lainnya. Kondisi itu ikut menjaga persepsi masyarakat terhadap prospek usaha dan pendapatan.
“Aktivitas wisatawan yang tetap tinggi turut menopang kinerja sektor perdagangan, transportasi, akomodasi, serta berbagai sektor jasa lainnya sehingga menjaga persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospek usaha tetap positif,” ujar Achris.
Optimisme juga terlihat berdasarkan kelompok pekerjaan. Indeks keyakinan konsumen pekerja sektor formal tercatat 120,3, sedangkan sektor informal lebih tinggi, mencapai 125,7.
Sementara berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan keyakinan terlihat terutama pada responden dengan pengeluaran Rp5 juta-Rp6 juta dan Rp2 juta-Rp3 juta per bulan.
Meski prospek ekonomi dinilai positif, tantangan menjaga daya beli tetap menjadi perhatian. Inflasi Bali pada September 2026 tercatat 3,79 persen secara tahunan (yoy), sedikit berada di atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Karena itu, menjaga optimisme konsumen tidak cukup hanya dengan mendorong aktivitas ekonomi. Stabilitas harga juga menjadi kunci agar peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja benar-benar mampu diterjemahkan menjadi daya beli masyarakat.
Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TPPED) serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan kabupaten/kota se-Bali.
Upaya pengendalian inflasi dilakukan melalui berbagai langkah, antara lain operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, serta penguatan distribusi pangan.
“Sinergi pengendalian inflasi dan penguatan aktivitas ekonomi perlu terus diperkuat guna menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Achris.
Bagi perekonomian Bali, meningkatnya IEK menjadi sinyal yang patut diperhatikan. Ketika kondisi ekonomi saat ini mulai mengalami normalisasi, masyarakat justru menunjukkan keyakinan yang lebih kuat bahwa penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha akan membaik dalam beberapa bulan ke depan.
Optimisme inilah yang diharapkan menjadi modal penting untuk menjaga konsumsi rumah tangga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi Bali.
“Dengan sinergi yang kuat antara kebijakan pusat dan daerah, optimisme masyarakat diharapkan tetap terjaga sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berdaya tahan,” ujar Achris. (red)














