BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Langit Buleleng Tampak Buram Meski Terik, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Langit Kabupaten Buleleng tampak buram dan keabu-abuan meski matahari terasa terik. Selasa (27/10). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Langit Kabupaten Buleleng terlihat buram dan keabu-abuan dalam beberapa hari terakhir meski sinar matahari terasa terik. Fenomena tersebut juga membuat bulan tampak samar pada malam hari, termasuk ketika berada dalam fase purnama.

Kondisi ini memicu pertanyaan masyarakat karena langit tidak terlihat cerah seperti biasanya. Menanggapi fenomena tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar menjelaskan bahwa kondisi langit Buleleng berkaitan dengan tutupan awan menengah jenis altostratus.

Ketua Tim Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Denpasar, Wayan Musteana, mengatakan citra satelit sebaran asap di Indonesia tidak menunjukkan adanya deteksi asap di wilayah Bali. Sementara itu, hasil observasi dari Stasiun Klimatologi Bali menunjukkan seluruh bagian langit tertutup awan altostratus.

Penjelasan tersebut disampaikan Musteana saat dikonfirmasi pada Selasa (27/10/2026).

Awan altostratus merupakan awan menengah yang membentuk lapisan luas hingga menutupi sebagian besar atau seluruh langit. Lapisan awan ini dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang mencapai permukaan bumi sehingga langit terlihat kelabu, meskipun kondisi di permukaan masih terasa panas.

Fenomena serupa juga dapat memengaruhi penampakan bulan pada malam hari. Cahaya bulan yang melewati lapisan awan akan tampak lebih redup atau samar dibandingkan saat langit cerah.

El Niño dan IOD Positif Pengaruhi Dinamika Atmosfer

Selain tutupan awan setempat, kondisi atmosfer Indonesia saat ini juga dipengaruhi fenomena iklim berskala luas, yakni El Niño yang kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut Musteana, kedua fenomena tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan dan pertumbuhan awan di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini cenderung menekan pembentukan awan hujan sehingga di sejumlah daerah langit dapat terlihat lebih cerah atau hanya ditutupi awan tipis seperti cirrus.

Namun, pengaruh fenomena iklim tersebut tidak membuat kondisi langit di seluruh wilayah menjadi seragam. Dinamika atmosfer regional dan lokal tetap berperan dalam menentukan cuaca di setiap daerah.

“Kendati demikian, selain faktor global, pertumbuhan awan di Indonesia juga disebabkan oleh faktor regional dan faktor lokal,” ujar Musteana.

sc : BMKG

Ia menjelaskan, faktor regional mencakup aktivitas monsun, gelombang atmosfer, serta posisi daerah tekanan rendah. Sementara itu, faktor lokal berkaitan dengan labilitas udara dan kondisi tutupan awan di suatu wilayah.

Perbedaan pengaruh faktor-faktor tersebut membuat penampakan langit dapat berbeda antardaerah, meskipun berada dalam periode iklim yang sama. Karena itu, kondisi langit buram di Buleleng perlu dipahami berdasarkan hasil pengamatan cuaca setempat, bukan semata-mata dikaitkan dengan fenomena iklim global.

BMKG Wilayah III Denpasar memperkirakan kondisi berawan tersebut masih berpotensi berlangsung hingga tiga hari ke depan sejak Selasa (27/10/2026).

“Kondisi cuaca berawan ini masih berpotensi (masih akan berlangsung) hingga 3 hari ke depan,” tandas Musteana. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *