BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

BMKG Peringatkan Kekeringan Ekstrem, Tejakula Masuk Zona Merah Hari Tanpa Hujan

whatsapp image 2025 10 14 at 18.47.47
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, kini menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah masuk dalam zona merah kekeringan ekstrem. Berdasarkan data terbaru, wilayah tersebut tercatat mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Kondisi ini dikategorikan sebagai “ekstrem drought”, menjadikan Tejakula sebagai salah satu kawasan paling rawan kekeringan di Bali saat ini.

Meski begitu, BMKG mencatat bahwa secara umum wilayah Bali masih berada pada kategori “Masih Ada Hujan”, dengan distribusi curah hujan berkisar antara 0 hingga 155 mm per dasarian. Namun, daerah pesisir timur seperti Tejakula menunjukkan anomali signifikan akibat minimnya curah hujan selama dua bulan terakhir.

Menanggapi peringatan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dini dari BMKG, namun hingga kini belum ada permintaan bantuan air bersih dari warga.

“Secara umum kami telah menerima peringatan dini tersebut. Wilayah Tejakula diperkirakan mengalami kekeringan meteorologis, yakni kondisi kering dalam periode tertentu akibat berkurangnya curah hujan dan atau musim kemarau yang berkepanjangan. Namun kami belum menerima permintaan bantuan air,” ungkap Ariadi, Selasa (14/10/2025).

Ia menjelaskan, kekeringan biasanya akan diikuti dengan lonjakan permintaan air bersih. Meski begitu, hingga pertengahan Oktober, hanya satu permintaan distribusi air bersih yang diterima BPBD, yaitu dari Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, bukan karena kekeringan, melainkan karena saluran PAM desa sedang diperbaiki.

“Total 25.000 liter air bersih kami distribusikan ke Desa Sinabun, bertahap dari 6 Oktober kami menyalurkan 5.000 liter air, dan tanggal 9 Oktober sebanyak 20.000 liter,” tambahnya.

Ariadi menegaskan, pihaknya akan terus memantau wilayah rawan kekeringan serta mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung.

“Kami, BPBD, mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kekeringan ekstrem, serta mengatur penggunaan air bersih secara bijak selama periode kemarau,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, Direktur Utama PDAM Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, mengatakan belum ada permintaan bantuan air bersih untuk daerah terdampak kekeringan. Namun ia mengakui adanya peningkatan konsumsi air yang cukup signifikan.

“Belum ada permintaan bantuan air bersih. Hanya saja secara umum pada musim kemarau ini terjadi lonjakan penggunaan air hingga 20 persen lebih,” jelasnya.

Berdasarkan kajian potensi bencana BPBD Kabupaten Buleleng tahun 2025, terdapat beberapa desa yang berisiko mengalami kekeringan. Di antaranya 4 desa di Kecamatan Tejakula, 1 desa di Kecamatan Kubutambahan, 1 desa di Kecamatan Sukasada, 5 desa di Kecamatan Busungbiu, dan 9 desa di Kecamatan Gerokgak. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *