BULELENG (terasbalinews.com) – Kawasan Buleleng Barat mulai melakukan lompatan besar di sektor perikanan. Para pembudidaya tak lagi hanya mengandalkan ekspor benih bandeng (nener), tetapi beralih ke hilirisasi melalui budidaya bandeng premium yang ditargetkan menembus pasar domestik hingga ekspor.
Inisiatif ini digagas oleh Hengky Putro Raharjo, owner PT. Putra Bahari Manunggal, bersama Meddy Davros. Mereka mendorong sentralisasi budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) guna menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Menurut Meddy, selama ini ketergantungan pada ekspor nener menjadi persoalan karena musimnya terbatas.
“Dulu kita bermasalah dengan terkendalanya harga nener di luar season ekspor yang hanya sekitar tiga bulan. Sementara kita hidup 12 bulan. Sebagian besar masyarakat Gerokgak menggantungkan hidupnya pada nener. Karena itu, kita cari jalan keluar melalui hilirisasi, yaitu tahap pembesaran,” ungkapnya, Rabu (22/4/2026).
Pembesaran bandeng kini dilakukan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) di wilayah Sumberkima, Patas, dan Sumberkelampok. Hasilnya dinilai menjanjikan, dengan kualitas ikan premium yang tidak berbau lumpur dan memiliki daya saing tinggi di pasar.
“Kualitas ikannya sangat bagus dan disukai. Potensi pasarnya, baik lokal maupun ekspor, sangat besar karena sekarang tren masyarakat mencari makanan yang selain enak juga menyehatkan,” tambah Meddy.
Sementara itu, Hengky yang telah berkecimpung sejak 1987 menilai Buleleng harus bersiap menjadi sentra bandeng premium, meski saat ini ekspor nener masih menguntungkan.
“Sementara ini kita nyoba bikin pabrik sendiri. Tujuannya supaya petani yakin, kalau mereka bikin bandeng konsumsi tanpa bau tanah dan lumpur, saya siap menampung,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas agar tidak kehilangan pasar internasional.
“Kita harus berani kerja mutu. Kalau mutu kita amburadul, negara pembeli seperti Filipina akan berusaha bikin pembibitan sendiri, dan kita bisa kehilangan pasar,” jelasnya.
Transformasi ini turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui bantuan fasilitas KJA dan pendampingan teknis kepada kelompok nelayan.
Dengan model kemitraan antara nelayan, swasta, dan pemerintah, saat ini telah terbentuk sekitar 20 kelompok pembudidaya yang menerapkan standar kualitas ketat.
Ke depan, Buleleng Barat diproyeksikan tidak hanya sebagai pemasok benih, tetapi berkembang menjadi pusat produksi bandeng premium berorientasi ekspor di Indonesia. *ndr














