DENPASAR (terasbalinews.com). Saat kebanyakan orang menghabiskan momen Lebaran bersama keluarga atau merayakan malam tahun baru dengan gemerlap kembang api, dua perempuan tangguh ini justru berada di garda terdepan memastikan satu hal penting tetap menyala: listrik!
Adalah Elashinta, Manager PT PLN (Persero) UP3 Bali Utara, dan Imadya Nareswari, Manager UP3 Bali Timur, dua sosok yang tak hanya menjalankan tugas, tapi menjadikannya panggilan hidup. Mereka adalah contoh nyata Kartini modern: berani, berdedikasi, dan siap menabrak stigma di dunia yang masih sering dianggap “lahan laki-laki”.
“Pernah pas Lebaran, keluarga besar kumpul, tapi saya tetap siaga. Listrik harus aman, itu prioritas,” cerita Elashinta. “Tahun baru pun saya jaga posko. Karena kebahagiaan masyarakat jangan sampai padam gara-gara listrik,” sambung Imadya, Selasa (22/4/2025).
Menjadi pemimpin di sektor vital seperti kelistrikan bukan cuma soal teknis. Ada harga yang dibayar mahal waktu bersama keluarga yang seringkali hilang.
“Saya hidup jauh dari keluarga. Momen-momen penting kadang harus dilewatkan. Tapi ini pilihan, ini pengabdian,” ungkap Imadya. “Saya selalu jelaskan ke anak-anak, ini cara saya melayani banyak keluarga lainnya,” tambah Elashinta.
Di balik helm dan sepatu safety, dua perempuan ini juga aktif jadi mentor buat generasi muda, terutama para perempuan yang ingin menapaki dunia teknik.
“Kami ingin stigma itu dipatahkan. Teknik itu juga ruang bagi perempuan,” tegas Imadya. “Justru kita punya kepekaan yang bisa jadi kekuatan dalam memahami kebutuhan pelanggan,” kata Elashinta.
Bagi mereka, hari terbaik bukan yang penuh sorak sorai, tapi saat masyarakat bisa beraktivitas tanpa gangguan.
“Anak-anak bisa belajar nyaman, rumah tangga berjalan normal, itulah kepuasan kami,” ucap Imadya. “Kami menjaga aliran listrik, tapi juga menjaga kepercayaan,” tutup Elashinta.
Keduanya, Elashinta dan Imadya bukan cuma memastikan lampu tetap menyala. Mereka adalah simbol semangat juang perempuan Indonesia—yang rela berkorban demi pelayanan terbaik, yang tak takut tantangan, dan yang terus membuka jalan bagi generasi selanjutnya.
Di tengah era serba digital, mereka adalah pelita yang menjaga nyala harapan—bukan hanya untuk Bali, tapi untuk Indonesia. (red)















