BULELENG (terasbalinews.com) – Kabar duka datang dari keluarga besar Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal desa setempat, Komang Sasa Dwi Lestari (22), meninggal dunia di Istanbul, Turki, akibat sakit asam lambung akut pada Minggu (14/9).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Nyoman Suarjana, membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, pihak Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali telah berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul untuk memastikan informasi tersebut.
“Kami sudah menerima kabar resmi. Saat ini jenazah dalam perjalanan pulang ke Bali,” ujarnya, Selasa (16/9) petang.
Jenazah diberangkatkan dari Istanbul dengan maskapai Turkish Airlines nomor penerbangan TK66 pada pukul 15.14 waktu setempat. Diperkirakan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, sekitar pukul 19.15 Wita.
“Malam ini jenazahnya tiba di Bali. Kami dari Disnaker Buleleng ikut menjemput karena ada berita acara serah terima. Setelah itu, jenazah akan langsung dibawa ke rumah duka di Sambirenteng. Keluarga sudah menyiapkan ambulans di bandara,” tambah Suarjana.
Berdasarkan penelusuran, Komang Sasa bekerja sebagai terapis spa di sektor pariwisata. Namun, ia tidak terdaftar dalam Sistem Komputerisasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI). Diduga, keberangkatan almarhumah dilakukan secara mandiri tanpa melalui agen resmi penyalur tenaga kerja.
“Kemungkinan berangkat mandiri atau ikut keluarga di sana, lalu mendapat pekerjaan langsung,” jelas Suarjana.
Pihak Disnaker Buleleng bersama BP3MI Bali masih menelusuri detail status kerja almarhumah, termasuk lama ia bekerja di Turki.
“Staf kami yang ikut menjemput akan mencari informasi lebih lanjut,” imbuhnya.
Adapun biaya pemulangan jenazah ditanggung keluarga dibantu donasi masyarakat setempat. “Menurut informasi dari Perbekel Sambirenteng, ada donasi dari warga selain biaya dari keluarga, sehingga jenazah bisa dipulangkan ke tanah air,” tutup Suarjana. *ndr














