BULELENG (terasbalinews.com) – Rencana pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis ketahanan pangan di Kecamatan Gerokgak mulai memasuki tahap kajian mendalam. Hal ini terungkap dalam rapat yang digelar di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Kamis (9/4/2026).
Rapat tersebut dipimpin oleh Kepala Dinas, Gede Melandrat, dan dihadiri tim dari Universitas Pertahanan RI, perwakilan PT. Wijaya Laksmi, Yayasan Keris Bali, serta jajaran dinas terkait.
Dalam pemaparannya, Melandrat menegaskan bahwa wilayah Buleleng memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perikanan, terutama di Desa Pemuteran, Sumberkima, dan Pejarakan. Karakteristik wilayah yang dikenal dengan konsep “Nyegara Gunung” dinilai menjadi kekuatan utama karena mampu menghasilkan beragam komoditas unggulan, bahkan hingga pasar ekspor.
Ia juga menyinggung keterlibatan pihaknya dalam program SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) yang digagas oleh Kementerian Pertahanan RI bersama Badan Gizi Nasional sebagai bagian dari dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami pernah terlibat dalam pembekalan SPPI yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan RI dan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjadi agen perubahan pengelolaan MBG,” kata Melandrat.
Meski peluang pengembangan KEK cukup besar, pihak dinas tidak menutup mata terhadap potensi risiko, terutama alih fungsi lahan pertanian. Untuk itu, pembangunan diharapkan tetap mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2021 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
“Jika terjadi pengurangan lahan pertanian, pemerintah pusat diharapkan dapat memberikan intervensi melalui peningkatan sarana dan prasarana, seperti bantuan pompa air, pupuk bersubsidi, serta benih unggul guna meningkatkan produktivitas pertanian,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Tim UNHAN RI, Yanda Dwira Firman, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari pengumpulan data untuk memperkuat kajian teknis pembangunan KEK ketahanan pangan.
Tim telah melakukan peninjauan langsung ke berbagai sektor, mulai dari kelompok tani, peternak, nelayan, hingga pembudidaya perikanan. Mereka juga mengunjungi potensi wilayah seperti tambak garam, tambak udang, hutan bakau, terumbu karang, serta lahan pertanian.
“Tim juga mengunjungi berbagai potensi seperti tambak garam, tambak udang, hutan bakau, terumbu karang, serta lahan pertanian. Secara umum wilayah Gerokgak memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi KEK berbasis ketahanan pangan yang terintegrasi dengan konsep green economy dan pariwisata,” jelasnya.
Namun demikian, kesiapan infrastruktur pendukung menjadi perhatian utama, khususnya kebutuhan pembangunan bandara di Bali Utara untuk memperkuat aksesibilitas kawasan.
Menanggapi kekhawatiran terkait alih fungsi lahan, anggota tim UNHAN RI, Imam Supriadi, turut menanyakan wilayah alternatif sebagai penyangga ketahanan pangan. Melandrat menyebut Kecamatan Seririt, Banjar, dan Busungbiu siap menjadi daerah penopang apabila terjadi penurunan luas lahan di Gerokgak.
“Hasil pertemuan ini akan dibawa oleh tim UNHAN RI ke tingkat provinsi untuk pembahasan lanjutan, berdasarkan hasil kajian dan verifikasi data lapangan yang telah dilakukan,” tandasnya. *ndr















