BULELENG (terasbalinews.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus hanta. Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya perhatian dunia terhadap kasus virus hanta, termasuk insiden di kapal pesiar MV Hondius yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi isu virus hanta, tetapi juga tidak boleh menganggap remeh ancaman penyakit yang berasal dari hewan pengerat tersebut.
“Terkait merebaknya virus hanta di sejumlah tempat, kami mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit dengan menjaga kebersihan lingkungan, pengendalian tikus, serta menerapkan pola hidup sehat,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, penularan virus hanta umumnya terjadi melalui paparan debu dari kotoran tikus, urin, air liur, gigitan, maupun benda-benda yang telah terkontaminasi. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Virus hanta diketahui dapat memicu gangguan serius pada manusia, di antaranya Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai 35 hingga 40 persen, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan tingkat fatalitas sekitar 5 hingga 15 persen.
Menurut dr. Sucipto, gejala awal infeksi virus hanta sering menyerupai flu biasa. Penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, hingga batuk.
“Gejala awal penyakit ini umumnya mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, muntah, hingga batuk. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan kotor diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ucap dr. Sucipto.
Selain menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, masyarakat juga diminta menutup akses masuk tikus ke rumah, menyimpan bahan makanan dalam wadah tertutup, serta rutin membuang sampah pada tempatnya.
“Kebersihan lingkungan, pengendalian tikus, dan kewaspadaan masyarakat menjadi perlindungan utama dalam mencegah penyebaran virus hanta,” imbuhnya.
Dinkes Buleleng juga mengingatkan warga agar menggunakan masker dan sarung tangan ketika membersihkan area yang terdapat banyak kotoran tikus. Kotoran tikus dianjurkan disemprot cairan disinfektan atau air terlebih dahulu agar debunya tidak beterbangan saat dibersihkan.
“Belum ada obat antivirus spesifik maupun vaksin yang tersedia luas untuk virus hanta. Penanganan saat ini lebih bersifat suportif. Semakin cepat ditangani, maka peluang keselamatan pasien akan semakin besar,” tandas dr. Sucipto. *ndr















