BADUNG (terasbalinews.com). Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) berhasil menyelenggarakan tahap ketiga sekaligus terakhir dari Workshop and Knowledge Exchange on Sustainable Financing di Bali, Indonesia, pada 8–12 September 2025.
Diselenggarakan beriringan dengan Internal Resources Committee (IRC) Meeting CTI-CFF, kegiatan ini menandai pencapaian penting dalam mendorong solusi pembiayaan jangka panjang untuk konservasi laut dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Segitiga Terumbu Karang.
Kegiatan ini didukung bersama oleh Wildlife Conservation Society (WCS) dan Rare, mencerminkan kolaborasi erat antara CTI-CFF dan mitra strategisnya dalam mempromosikan solusi kelautan berkelanjutan.
“Rangkaian lokakarya ini merupakan contoh nyata bagaimana kolaborasi regional dan penguatan kapasitas yang terarah dapat menghasilkan kemajuan nyata dan aplikatif,” ujar Valerie Kuan, Finance Manager, Singapore SEAA, WCS, Rabu (10/9/2025). Kami bangga mendukung CTI-CFF dan negara-negara anggotanya dalam merintis mekanisme pembiayaan inovatif yang selaras dengan tujuan konservasi dan pembangunan berkelanjutan, tambahnya.
Program tiga tahap Sustainable Financing ini dirancang untuk memperkuat kapasitas enam negara anggota Segitiga Terumbu Karang—Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste—dalam menerapkan pendekatan praktis pembiayaan berkelanjutan.
Tahap pertama dan kedua dilaksanakan di Manila, Filipina, masing-masing pada November 2024 dan Juni 2025. Kedua sesi tersebut menjadi dasar bagi negara-negara untuk memahami instrumen pembiayaan, mengeksplorasi keterhubungan kebijakan, dan berbagi ideide baru yang muncul.
Lokakarya terakhir di Bali menjadi puncak perjalanan pembelajaran ini, membekali perwakilan CT6 dengan pengetahuan teknis dan keterampilan praktis dalam pembiayaan konservasi. Dipandu oleh Dr. David Meyers, pakar global di bidang pembiayaan berkelanjutan, pelatihan ini menggabungkan materi teoretis dengan latihan praktis dalam perancangan proyek, penganggaran, keterlibatan donor, serta pengembangan mekanisme pembiayaan inovatif yang sejalan dengan prioritas nasional dan regional.
Dengan dihadiri oleh seluruh enam negara anggota, lokakarya ini menciptakan ruang dinamis untuk pertukaran pengetahuan dan pembelajaran antarnegara. Perwakilan dari masing-masing negara menyempurnakan konsep yang sedang dikembangkan, berbagi pengalaman praktis, serta menjajaki peluang kolaborasi.
Format partisipatif ini memastikan pengetahuan yang diperoleh terhubung langsung dengan prioritas nasional sekaligus memperkuat peran CTI-CFF sebagai platform kerja sama regional.
Hasil penting dari tahap ketiga sekaligus terakhir ini adalah lahirnya dua inovasi pembiayaan unggulan dalam kerangka CTI-CFF: Regional Impact Bond dan Country Prioritisation Sustainable Financing Mechanism. Kedua mekanisme ini, yang akan diperkenalkan secara resmi setelah lokakarya berakhir, merupakan produk kolektif dari program tiga tahap pembiayaan konservasi.
Inovasi ini dirancang untuk menyediakan sumber pendanaan yang stabil dan dapat ditingkatkan guna melindungi keanekaragaman hayati laut, memperkuat pengelolaan perikanan, serta meningkatkan ketahanan pangan di kawasan Segitiga Terumbu Karang.
Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Frank Griffin, Executive Director CTI-CFF Regional Secretariat, menekankan pentingnya pencapaian ini.
“Rangkaian lokakarya tiga tahap ini telah membawa kita ke titik balik penting. Dengan membekali negara-negara anggota dengan alat, pengetahuan, dan jalur praktis untuk pembiayaan berkelanjutan, kita tidak hanya memperkuat kapasitas nasional, tetapi juga membangun solusi kolektif untuk seluruh kawasan Segitiga Terumbu Karang. Regional Impact Bond dan mekanisme pembiayaan berbasis negara yang akan datang mencerminkan komitmen bersama kita untuk melindungi laut dan menjamin ketahanan pangan bagi generasi mendatang,” ucap Dr. Frank Griffin.
Sebelum lokakarya, pertemuan IRC membahas isu-isu kelembagaan dan tata kelola keuangan yang krusial bagi keberhasilan pembiayaan berkelanjutan di kawasan. Negara anggota meninjau perkembangan tindak lanjut keputusan dari Senior Officials Meeting ke-19 (SOM19), menyetujui anggaran 2026 dan kontribusi negara, serta menerima laporan pembaruan audit keuangan.
Pertemuan ini juga membahas isu strategis termasuk integrasi program Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA) ke dalam CTI-CFF dan persiapan SOM-20. Diskusi ini memberikan fondasi kelembagaan yang kuat untuk melengkapi hasil teknis lokakarya serta memastikan kesiapan regional menghadapi fase inovasi pembiayaan berikutnya.
Dengan menyelesaikan lokakarya tiga tahap di Bali sekaligus menyelaraskannya dengan IRC Meeting, CTI-CFF menegaskan kembali komitmennya terhadap pendekatan terpadu— menghubungkan penguatan kapasitas dengan pengambilan keputusan kelembagaan.
Dengan dukungan kuat dari mitra seperti WCS dan Rare, lokakarya ini membuka jalan bagi kerja sama regional yang lebih erat dan sistem keuangan yang lebih tangguh untuk menopang sumber daya laut Segitiga Terumbu Karang selama beberapa dekade mendatang. (red)














