BULELENG (terasbalinews.com) – Inovasi berbasis lingkungan dari Kabupaten Buleleng kembali menorehkan prestasi. Karya kreatif bertajuk “Recycle Mask” resmi mendapatkan Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari pemerintah pusat, sebagai bentuk pengakuan atas nilai orisinalitas dan manfaatnya.
Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Supratman Andi Agtas kepada Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, dalam seremoni yang berlangsung di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Rabu (1/4). Acara ini juga dihadiri Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Gubernur Bali I Wayan Koster bersama sejumlah pejabat lainnya.
“Recycle Mask” merupakan bentuk inovasi seni yang mengolah berbagai jenis limbah seperti masker bekas, plastik, kardus, hingga kertas menjadi produk bernilai estetika. Hasil karyanya pun beragam, mulai dari topeng, hiasan dinding, hingga miniatur ogoh-ogoh yang sarat pesan lingkungan.

Bupati Sutjidra menegaskan bahwa capaian ini membuktikan limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi sekaligus seni yang tinggi. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan HKI agar karya para kreator tidak disalahgunakan.
“Dengan adanya perlindungan hukum, para pelaku ekonomi kreatif diharapkan semakin percaya diri untuk mengembangkan inovasi,” ujarnya.
Pemkab Buleleng pun terus mendorong para pelaku usaha dan kreator lokal untuk mendaftarkan karya mereka sebagai bagian dari penguatan sektor ekonomi kreatif. Pendekatan yang dilakukan dinilai tidak sekadar mendaur ulang, tetapi juga menghadirkan karya seni yang membawa pesan kuat tentang kepedulian terhadap lingkungan.
Menurut Sutjidra, pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Buleleng, sekaligus bukti bahwa kreativitas lokal mampu menjawab persoalan lingkungan dengan solusi inovatif. Pemerintah daerah juga terus membangun ekosistem kreatif melalui pembinaan dan pendampingan, khususnya pada sektor berbasis lingkungan.
Sementara itu, pencipta “Recycle Mask”, Nyoman Sudiarta, mengungkapkan bahwa dirinya memanfaatkan limbah kardus untuk diolah menjadi topeng hingga patung bernilai seni. Selain membantu mengurangi sampah, aktivitas tersebut juga memberikan tambahan penghasilan.
“Saya melihat sampah kardus bukan hanya barang buangan, tapi punya nilai. Dari kardus saya bisa buat patung atau topeng, hasilnya bisa dijual. Jadi selain membantu lingkungan, saya juga bisa menambah pemasukan,” tutup Sudiarta. *ndr















