BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali Awal 2026 Terjaga, Kredit dan UMKM Tetap Tumbuh

ngorte4
"NGORTE" (Ngobrol Bersama Update Berita with Media) yang digelar OJK Bali, Jumat (10/4/2026). (foto/red)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

DENPASAR (terasbalinews.com). Kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali hingga Januari 2026 tercatat tetap stabil dan tumbuh positif di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Stabilitas ini terlihat dari fungsi intermediasi perbankan yang berjalan baik, profil risiko yang terjaga, serta likuiditas yang tetap memadai.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali, Parjiman, menyampaikan bahwa kondisi tersebut menunjukkan ketahanan sektor jasa keuangan di Bali masih solid. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan “NGORTE” (Ngobrol Bersama Update Berita with Media) yang digelar OJK Bali, Jumat (10/4/2026).

“Hal ini tercermin dari fungsi intermediasi yang berjalan baik, profil risiko yang terjaga, serta likuiditas yang memadai,” ujar Parjiman yang baru menjabat sebagai Kepala OJK Provinsi Bali menggantikan Kristrianti Puji Rahayu.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Irhamsah (Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsuman dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali), Ni Made Novi Susilowati (Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 3 OJK Provinsi Bali), dan Zulkifli (Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 4 OJK Provinsi Bali).

OJK mencatat kinerja intermediasi perbankan di Bali, baik bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR), menunjukkan pertumbuhan positif. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh 6,92 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp119,29 triliun.

Sementara itu, kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 7,11 persen yoy menjadi Rp143,66 triliun. Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh peningkatan kredit investasi yang naik 17 persen yoy atau bertambah sekitar Rp5,99 triliun, terutama pada sektor akomodasi, makan minum, dan real estat.

“Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan peran perbankan dalam pembiayaan ekspansi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang di Provinsi Bali,” jelas Parjiman.

Selain kredit investasi, kredit konsumsi juga tumbuh 4,75 persen yoy, sementara kredit modal kerja mengalami moderasi tipis -0,24 persen yoy.

OJK Bali juga mencatat peran besar sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam penyaluran kredit. Sebanyak 51,19 persen kredit di Bali disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan 4,39 persen yoy.

Porsi kredit UMKM di Bali bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, baik dari sisi kontribusi maupun pertumbuhannya. Hal ini menunjukkan sektor UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Dari sisi sektor ekonomi, kredit didominasi oleh sektor bukan lapangan usaha sebesar 33,63 persen, diikuti sektor perdagangan besar dan eceran 27,31 persen. Pertumbuhan kredit terbesar berasal dari sektor akomodasi dan makan minum yang meningkat Rp2,21 triliun atau tumbuh 17,02 persen yoy.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) di Bali juga tetap tumbuh positif sebesar 6,66 persen yoy menjadi Rp204,33 triliun. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan tabungan masyarakat yang bertambah Rp7,01 triliun.

Fungsi intermediasi perbankan masih terjaga dengan “Loan to Deposit Ratio” (LDR) sebesar 58,38 persen, yang mencerminkan kondisi likuiditas yang cukup aman.

OJK memastikan kualitas kredit perbankan di Bali tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,60 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, NPL net berada di 1,78 persen, dan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 9,17 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh penyelesaian kredit restrukturisasi serta ekspansi kredit yang lebih sehat.

Parjiman juga menegaskan ketahanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Bali masih kuat, terlihat dari Cash Ratio (CR) sebesar 15,17 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 33,37 persen, yang berada jauh di atas batas minimum.

“Ketahanan BPR di Provinsi Bali tetap kuat sebagai buffer mitigasi risiko untuk mengantisipasi ketidakpastian global,” tegasnya.

Secara keseluruhan, OJK menilai sektor jasa keuangan di Bali pada awal 2026 berada dalam kondisi sehat dan stabil. Pertumbuhan kredit investasi, dominasi UMKM, serta likuiditas yang terjaga menjadi indikator bahwa sektor keuangan Bali masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan global. (yak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *