BULELENG (terasbalinews.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini resmi bergulir di Kecamatan Buleleng. Senin (25/8/2025), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Buleleng Kaliuntu mulai menyalurkan makanan bergizi ke 17 sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SLTA. Peluncuran dipusatkan di SD Negeri 4 Kaliuntu Singaraja dan dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI Tutik Kusuma Wardani, Plt Kadisdikpora Buleleng Dewa Made Sudiarta, Muspika Kecamatan Buleleng, serta perwakilan BGN Buleleng Ketut Ngurah Arya Krisna.
Plt Kadisdikpora Buleleng, Dewa Made Sudiarta, menegaskan bahwa peluncuran ini menjadi model awal implementasi MBG.
“Peluncuran ini akan kita jadikan model ke depan implementasi MBG berjalan dengan lancar dan diterima dengan baik oleh penerima manfaat,” ujarnya.
Sudiarta menambahkan, kebutuhan SPPG di Buleleng akan disesuaikan dengan jumlah siswa. Dengan total sekitar 110 ribu siswa, Buleleng diperkirakan memerlukan lebih dari 30 SPPG.
“Sejauh ini sudah ada 25 sekolah yang menjadi sasaran uji coba untuk launching. Sisanya yang belum, sudah diskemakan dan diminta segera membentuk tim percepatan,” jelasnya.
Sementara itu, Tutik Kusuma Wardani hadir langsung untuk memastikan distribusi MBG berjalan lancar. Ia mengaku melihat dampak positif dari program tersebut.
“Dari pantauan ternyata anak-anak menjadi lebih semangat datang ke sekolah setelah diketahui ada program MBG ini, ada yang diharapkan dan ini memotivasi semangat belajar mereka,” katanya.
Menurut Tutik, Bali akan memiliki sedikitnya 216 dapur SPPG untuk menjangkau penerima manfaat hingga pelosok.
“Jika program ini sudah berjalan maksimal diperkirakan uang beredar di Bali untuk program ini senilai Rp2 triliun per tahun. Ini akan memacu pertumbuhan ekonomi luar biasa karena langsung menyentuh kepentingan petani, peternak, dan nelayan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketut Ngurah Arya Krisna dari BGN Buleleng menjelaskan bahwa menu MBG disusun ahli gizi sesuai jenjang usia siswa.
“Ada takaran pada masing-masing menu kandungan gizi oleh ahlinya. Per ompreng akan berbeda jumlah gizi dari tingkat PAUD hingga jenjang lebih tinggi untuk memastikan jumlah kalorinya. Menunya juga akan berubah setiap waktu,” jelasnya.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Di SMPN 2 Singaraja, sejumlah siswa justru meminta agar porsi makanan diperbanyak. Keluhan ini disampaikan melalui guru yang menilai siswa sedang dalam masa pertumbuhan.
“Memang ada siswa-siswa yang merequest agar porsinya ditambah karena dianggap kurang. Mereka minta agar porsi menunya ditambah, terutama nasi,” ungkap salah seorang guru. (ndra)















