BULELENG (terasbalinews.com) – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Buleleng sejak 11 hingga 14 Januari 2026 memicu serangkaian bencana alam di berbagai wilayah. Laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng mencatat sedikitnya 40 kejadian bencana hingga Senin (14/1/2026) pukul 08.00 Wita.
Dari keseluruhan kejadian tersebut, tanah longsor menjadi bencana paling sering terjadi dengan total 23 peristiwa. Longsor tersebar di enam kecamatan, dengan Kecamatan Banjar sebagai daerah terdampak terparah. Desa Munduk tercatat mengalami tujuh kejadian longsor dalam periode tersebut.
Selain longsor, bencana lain yang dilaporkan meliputi sembilan kejadian pohon tumbang yang terjadi di Kecamatan Tejakula, Kubutambahan, Buleleng, Seririt, Busungbiu, dan Sawan. Insiden pohon tumbang ini sempat menyebabkan gangguan akses jalan serta aktivitas masyarakat.
BPBD juga mencatat satu kejadian banjir di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada. Sementara itu, kerusakan infrastruktur turut dilaporkan berupa tiga kejadian jalan jebol di Desa Ambengan (Sukasada), Desa Unggahan (Seririt), dan Desa Gesing (Banjar). Kerusakan senderan juga terjadi di tiga lokasi, yakni Desa Sudaji (Sawan), Desa Wanagiri (Sukasada), serta Desa Sepang (Busungbiu).
Dalam rangkaian bencana tersebut, satu peristiwa tragis terjadi di Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng. Seorang warga dilaporkan hanyut dan meninggal dunia. Korban diketahui bernama Made Serina (59), warga BTN Griya Sambangan Blok C Nomor 65, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa, menyampaikan bahwa data yang dirilis masih bersifat sementara. Proses asesmen dan pendataan di lapangan masih terus dilakukan untuk memastikan dampak serta menghitung estimasi kerugian akibat bencana.
“Pendataan masih berjalan. Jumlah kejadian, dampak, dan nilai kerugian bisa berubah seiring hasil asesmen lanjutan di lapangan,” jelasnya.
BPBD Buleleng mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah rawan longsor dan banjir, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan. *ndr



