BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Putu Agus Suradnyana Dorong Pariwisata Berbasis Lingkungan dan Usulkan Pembatasan Jam Operasional Truk di Buleleng

whatsapp image 2025 12 18 at 17.39.37
Mantan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Mantan Bupati Buleleng (Periode 2012-2022), Putu Agus Suradnyana, memberikan sejumlah masukan strategis terkait arah pembangunan dan pariwisata di Bali Utara. Hal itu disampaikan usai menghadiri dan menerima penghargaan wajib pajak terbaik tahun 2025 pada acara refleksi akhir tahun dan Pajak Award 2025 di Gedung Kesenian Gde Manik Kamis 18 Desember 2025.  Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa PAS ini menyoroti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah naiknya potensi pariwisata Buleleng, serta memberikan solusi jangka pendek terkait infrastruktur.Sebagai langkah jangka pendek untuk mengatasi kepadatan lalu lintas jalur Denpasar-Singaraja, Agus Suradnyana menyarankan adanya pengaturan jam operasional bagi kendaraan berat.

“Pertama jangka pendek untuk pariwisata Buleleng, saya nanti minta pada Pak Bupati untuk mengusulkan truk dari Denpasar ke Singaraja agar beroperasi pada malam hari saja. Ini persoalan, sebab ‘North Bali’ lagi naik daun sekarang,” ujar Agus.

Terkait konektivitas jangka menengah, ia menekankan pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang sebagai destinasi kapal pesiar (cruise). Menurutnya, Buleleng memiliki potensi besar untuk menerima wisatawan kapal pesiar mengingat Bali Selatan (Benoa) sudah sangat padat.

“Jangka menengahnya pelabuhan kapal pesiar. Destinasi pariwisata dari Benoa itu hampir 30 kali lipat yang datang ke papan bawah. Jauh sekali. Masalahnya pelabuhannya perlu diperpanjang dek-nya,” jelasnya.

Agus Suradnyana mengingatkan agar Buleleng tidak terjebak pada pariwisata buatan (artificial tourism) yang mulai ditinggalkan wisatawan asing. Ia menekankan perlunya perlindungan ketat terhadap kawasan gunung dan laut.

Terkait tata ruang, ia mendesak agar Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di wilayah pegunungan diperketat. “Gunungnya kalau lihat KDB Provinsi tata ruangnya 40 persen. Buleleng harus mengajukan 15 sampai 20 persen agar lingkungan kita tidak rusak. Ini berbahaya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti isu Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Agus menyarankan agar aturan diluweskan sedikit dengan memberikan ruang 10 persen bagi pemilik lahan untuk membangun akomodasi pariwisata terbatas, seperti vila, demi mendukung Community Based Tourism.

“Kalau LSD dan LP2B saklek (kaku), kasihan Community Based Tourism-nya. Berikan KDB 10 persen, sisanya tetap sawah. Sehingga masyarakat lokal bisa punya satu vila, tapi sawahnya tetap ada. Jangan sampai orang lokal hanya jadi penonton,” paparnya.

Dalam sektor kelautan, Agus berharap kewenangan pengelolaan wilayah laut 12 mil yang saat ini dipegang provinsi dapat dimohonkan untuk dikelola oleh Kabupaten Buleleng. Hal ini dikarenakan Buleleng memiliki potensi diving dan terumbu karang yang luar biasa yang perlu dijaga langsung oleh daerah.

Selain itu, ia juga menekankan kewajiban menjaga vegetasi bagi para investor hotel. Ia menyarankan penanaman pohon yang memiliki daya serap air tinggi seperti Trembesi dan Bambu dalam aturan pembangunan (vegetative site plan).

“Pastikan setiap orang bangun hotel harus nanam itu. Trembesi itu menyerap air sampai ratusan liter kalau hujan,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Agus Suradnyana mengapresiasi langkah pemerintah daerah saat ini yang mengembalikan festival seni ke tingkat kecamatan. Menurutnya, hal ini efektif untuk menjaring talenta-talenta lokal yang selama ini mungkin tidak terlihat jika acara hanya dipusatkan di kabupaten. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *