BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Supriatna Resmi Nahkodai MAI Bali, Soroti Potensi Bandeng Buleleng Sebagai Komoditas Strategis Nasional

Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama Ketua Umum MAI Pusat Prof. Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, serta peserta Konsolidasi Akuakultur Nasional berfoto bersama usai pengukuhan Supriatna sebagai Ketua DPD MAI Bali periode 2025–2029 di Auditorium Undiksha, Singaraja, Rabu (9/7). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com)– Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, kini mengemban amanah baru sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Provinsi Bali periode 2025–2029. Pengukuhannya dilakukan langsung oleh Ketua Umum MAI Pusat, Prof. Rokhmin Dahuri, dalam ajang Konsolidasi Akuakultur Nasional yang berlangsung di Auditorium Undiksha, Rabu (9/7).

Dalam pidatonya, Supriatna menegaskan komitmennya untuk mendorong kemajuan sektor akuakultur di Bali, dengan menaruh perhatian khusus pada Kabupaten Buleleng sebagai lumbung produksi benih ikan nasional. Ia menyebutkan, “Sekitar 98 persen benih bandeng nasional berasal dari Buleleng, khususnya di Kecamatan Gerokgak. Ini potensi luar biasa yang harus terus kita perkuat untuk kepentingan nasional.”

Lebih lanjut, Supriatna menggarisbawahi keunggulan gizi ikan bandeng yang sering kali diremehkan. Ia mengatakan, “Kandungan omega-3 dalam bandeng bahkan lebih besar dibandingkan ikan salmon. Bandeng sangat layak dikembangkan secara nasional untuk mendukung program perbaikan gizi masyarakat.”

Ia pun menyuarakan dorongan agar ikan bandeng ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional. “Ini akan memperkuat posisi Buleleng sebagai pemasok utama benih dan membuka peluang peningkatan kesejahteraan pembudidaya,” ujarnya.

Tidak hanya soal produksi, Supriatna juga mengajak agar pembangunan Bali tidak terus bergantung pada sektor pariwisata. Ia menekankan pentingnya penguatan sektor kelautan dan perikanan, mengingat Buleleng memiliki garis pantai sepanjang 157 kilometer yang sebagian besar belum tergarap maksimal.

“Wilayah pesisir yang belum tersentuh pariwisata bisa kita arahkan menjadi kawasan industri akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” terang Supriatna. Ia juga menyentil keberadaan Pelabuhan Ikan Sangsit yang kini tidak lagi berfungsi optimal. Ia berharap ada revisi regulasi agar pemerintah kabupaten bisa kembali berperan dalam pengelolaan wilayah pesisir.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, turut memberikan dukungan. Ia memaparkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan perairan luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis budidaya, baik laut, tawar, maupun payau. “Kita harus dorong agar bandeng naik kelas, karena kandungan omega-3-nya justru lebih tinggi dari salmon. Dalam hal ini, bandeng bisa setara atau bahkan menyaingi salmon sebagai ikan konsumsi unggulan nasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Rokhmin Dahuri menyebut potensi akuakultur di Buleleng sebagai ‘raksasa yang sedang tidur’. Dengan panjang garis pantai 157 km, ia menilai setidaknya 30 persen dapat dimanfaatkan untuk budidaya, terutama udang. “Buleleng seharusnya menjadi rajanya perikanan budidaya. Tinggal kita dorong investasi dan industrinya,” tuturnya. Ndra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *