BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Turyapada Tower Resmi Jadi Jantung Penyiaran Bali: Koster Tuntaskan Migrasi TV Digital di Buleleng

whatsapp image 2025 12 27 at 17.52.07
Gubernur Bali I Wayan Koster saat berada di menara Turyapadda. Desa Pegayaman Sukasada, Sabtu (27/12/25). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Era baru penyiaran di Pulau Dewata resmi dimulai secara paripurna. Sabtu pagi (27/12/2025), Gubernur Bali, Wayan Koster, menandai babak akhir sentralisasi penyiaran televisi digital di Bali yang kini sepenuhnya berpusat di Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali, Desa Pegayaman, Sukasada Buleleng.

Momen bersejarah ini ditandai dengan peluncuran siaran dari pemegang Multiplexing (MUX) Metro TV. Ini merupakan gelombang ketiga sekaligus penyempurna dari rangkaian peluncuran sebelumnya yang dihelat pada April dan Agustus lalu. Kini, dengan bergabungnya Metro TV bersama delapan kanal siarannya, genap sudah 30 saluran televisi dari empat penyelenggara MUX mengudara gagah dari menara ikonik tersebut.

Dalam sambutannya, Koster mengajak audiens menengok ke belakang. Mega proyek ini sejatinya lahir dari keluhan warga Buleleng saat masa kampanye Pilgub 2018 yang kesulitan mendapatkan sinyal televisi tanpa bantuan parabola. Namun, Koster menolak sekadar membangun pemancar biasa. Ia memimpikan infrastruktur yang tidak hanya fungsional secara teknis, tetapi juga menjadi mesin ekonomi baru.

whatsapp image 2025 12 27 at 17.45.21

“Konsep yang dibangun bukan sekadar tower biasa,” tegas Koster, menekankan bahwa ia anti membangun infrastruktur yang hanya menguras anggaran tanpa timbal balik ekonomi.

Visi tersebut mewujud dalam bangunan setinggi 115 meter yang berdiri di ketinggian 1.521 mdpl (total elevasi 1.636 mdpl). Turyapada Tower kini berdiri sebagai menara pertama di Indonesia yang mengawinkan teknologi penyiaran digital mutakhir dengan destinasi wisata kelas dunia, mulai dari planetarium, jembatan kaca, hingga restoran putar.

Dengan rampungnya tahap ini, menara-menara pemancar lawas yang berserakan akan segera dibongkar. Kajian Universitas Udayana membuktikan lokasi ini adalah titik paling strategis—bebas dari area suci dan mampu menyapu 85 persen wilayah Bali Utara, bahkan tembus hingga Banyuwangi.

“Hasil uji coba bahkan menunjukkan jangkauan siaran mencapai sekitar 95 persen wilayah,” ungkap Koster bangga.

Meski jangkauan sinyal kini jauh lebih luas, Koster secara terbuka mengakui masih ada tantangan geografis, khususnya di wilayah Bali Timur seperti Tejakula. Ia bahkan menyelipkan fakta unik mengenai kampung halamannya sendiri.

img 20251227 wa0078

 

“Malah di rumah saya di Sembiran, tidak dapat siaran,” ujarnya terus terang.

Namun, solusi sudah disiapkan. Pemerintah Provinsi Bali berencana membangun tiga menara pendukung (repeater) di Bali Timur, Selatan, dan Barat dengan estimasi biaya Rp20 miliar. “Dengan skema ini, Bali ke depan tidak lagi memiliki blank spot siaran televisi. Masyarakat tidak perlu lagi menggunakan parabola,” janji Koster.

Di luar fungsi hiburan, Turyapada Tower memegang peran vital bagi keamanan negara. Fasilitas ini akan menjadi mata dan telinga bagi TNI, Polri, BMKG, dan BPBD untuk memantau lalu lintas maritim di Selat Bali hingga mitigasi kebencanaan.

Kini, fokus beralih pada penyelesaian tahap kedua yang menelan anggaran Rp 265 miliar. Pengerjaan meliputi interior mewah untuk planetarium, lanskap taman, area glamping, hingga pembangunan gondola sepanjang satu kilometer yang akan menjadi atraksi primadona.

Koster menargetkan seluruh kawasan ini rampung pada November 2026 dan dibuka penuh untuk publik sebulan kemudian. Pengelolaannya kelak akan diserahkan kepada profesional pihak ketiga, mengadopsi standar manajemen destinasi raksasa seperti Ancol atau Trans Studio, namun tetap dengan kepemilikan aset 100 persen di tangan pemerintah daerah.

Dengan investasi total nyaris Rp 600 miliar tanpa campur tangan swasta, Koster optimistis proyek ini akan balik modal dalam tujuh tahun, menjadi sumur pendapatan asli daerah yang baru bagi Bali dan Buleleng. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *