BULELENG (terasbalinews.com) – Setelah berlangsung selama tujuh hari, operasi pencarian terhadap satu korban yang masih hilang akibat banjir bandang di Kabupaten Buleleng resmi dihentikan. Penutupan operasi dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) setelah berbagai upaya maksimal oleh Tim SAR Gabungan belum membuahkan hasil.
Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Buleleng, Donny Indrawan, menjelaskan bahwa sejak hari pertama kejadian, tim gabungan telah melakukan pencarian secara intensif melalui jalur darat maupun perairan.
“Untuk penyisiran perairan, kami sudah meluas ke arah timur melewati perairan Temukus hingga ke barat di daerah Kalianget. Kami juga telah menyebarkan informasi kepada masyarakat pesisir, nelayan, pemandu wisata bahari, hingga kapal-kapal yang melintas agar segera melapor apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban,” ujar Donny Indrawan, Kamis (12/3/2026).
Selain pencarian di laut, upaya penyisiran di darat juga dilakukan dengan melibatkan alat berat. Alat tersebut digunakan untuk membongkar tumpukan material lumpur, kayu, dan sampah yang menumpuk di sejumlah titik yang dicurigai, termasuk di sekitar lokasi rumah korban yang rusak diterjang banjir.
Namun demikian, upaya tersebut belum berhasil menemukan korban yang masih hilang.
Donny mengungkapkan bahwa kondisi cuaca dan ketebalan material banjir menjadi kendala utama selama proses pencarian berlangsung.
“Kendala utama selama tujuh hari pencarian ini adalah cuaca yang kurang mendukung. Selain itu, tumpukan material lumpur dan sampah yang sangat tebal menjadi hambatan berat bagi tim di lapangan. Meski begitu, dengan berkoordinasi bersama BMKG terkait kondisi cuaca, kami tetap berupaya memaksimalkan seluruh proses pencarian,” ungkapnya.
Meski operasi SAR secara resmi ditutup, Basarnas memastikan pemantauan tetap dilakukan. Apabila di kemudian hari ditemukan petunjuk atau informasi yang mengarah pada keberadaan korban, operasi pencarian dapat kembali dibuka.
“Dalam pelaksanaannya secara SOP memang kita tutup. Namun pemantauan dan koordinasi tetap kami lakukan. Jika ada tanda-tanda atau titik yang memastikan keberadaan korban, kami siap membuka kembali operasi SAR untuk membantu proses evakuasi,” tegas Donny.
Sebelum penutupan operasi dilakukan, pihak Basarnas juga telah berkoordinasi dengan keluarga korban. Keluarga disebut telah memahami keputusan tersebut serta mengapresiasi upaya yang telah dilakukan tim SAR gabungan selama proses pencarian.
“Keluarga korban sudah memahami situasi ini dan berterima kasih atas upaya tim SAR. Dari lubuk hati yang paling dalam, kami juga turut berdukacita karena satu target pencarian ini belum dapat ditemukan, sementara dua korban lainnya telah berhasil dievakuasi,” kata Donny.
Seperti diketahui, banjir bandang menerjang wilayah Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng pada Jumat malam (6/3/2026). Bencana tersebut menyebabkan tiga orang warga terseret arus, yakni Komang Suci (44) bersama dua anaknya, Putu Wini Lestari (17) dan Kadek Wahyu (12).
Pada hari kedua pencarian, Sabtu (7/3/2026), jenazah Komang Suci ditemukan di aliran sungai wilayah Banjar Dinas Ambengan, Desa Banjar. Selanjutnya pada hari ketiga, Minggu (8/3/2026), jenazah Kadek Wahyu ditemukan di perairan Desa Dencarik, Kecamatan Banjar.
Sementara itu, hingga operasi SAR ditutup pada hari ketujuh, satu korban lainnya yakni Putu Wini Lestari masih belum ditemukan. *ndr















