BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Kemarau Panjang Hantam Buleleng, Tirta Hita Terjunkan Tangki Air Atasi Krisis

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng I Made Lestariana menyampaikan kondisi pasokan air di tengah kemarau panjang Buleleng, Kamis (10/9/2026). (foto/ndr).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) –  Kemarau panjang yang ekstrem mulai melumpuhkan sebagian wilayah Buleleng. Bencana kekeringan ini bahkan memukul telak operasional perusahaan penyedia air minum daerah setempat.

Tercatat, Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng mengalami penyusutan debit air baku hingga 20 persen. Kondisi yang terjadi sejak Agustus 2026 ini berpotensi memangkas kapasitas produksi hingga mengancam stabilitas pendapatan perusahaan.

Siklus Lima Tahunan Hantam Produksi
Direktur Utama Perumda Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, mengakui bahwa tekanan kemarau tahun ini terasa sangat berat. Hasil pemantauan tim produksi menunjukkan kurva ketersediaan air terus merosot.

“Karena musim kemarau masih berlangsung, potensi penurunan debit air untuk meningkat tentu masih ada. Kondisi kemarau panjang seperti ini sebenarnya adalah siklus lima tahunan,” ungkap Lestariana di sela perayaan HUT ke-40 perusahaan, Kamis (10/9/2026).

Meskipun demikian, kondisi kritis ini bukan yang terburuk bagi perusahaan. Pihaknya pernah menghadapi situasi yang jauh lebih parah beberapa tahun silam.

“Dulu saat fenomena badai El Nino, kami juga pernah mengalami penurunan debit air yang lebih parah, yakni di kisaran 30 persen,” tegasnya.

Daftar Wilayah Terdampak Krisis Air Buleleng
Selain penyusutan ketersediaan air alam, layanan ke pelanggan kian tersendat akibat pekerjaan perbaikan jaringan pipa transmisi dan distribusi. Akibatnya, aliran air ke rumah warga mengalami gangguan signifikan.

Saat ini, sejumlah kawasan masuk dalam peta rawan terdampak. Wilayah tersebut meliputi Banyuning, Sambangan, Bhakti Seraga, Jalak Putih, hingga Padang Keling.

“Gangguan paling terasa ketika kebutuhan air meningkat. Pada jam beban puncak, terutama pagi dan sore hari, distribusi air menjadi lebih terkendala,” papar Lestariana.

Oleh karena itu, situasi ini berimbas langsung pada kondisi finansial. Menurunnya konsumsi air oleh pelanggan membuat potensi pendapatan (revenue) Tirta Hita Buleleng diprediksi ikut tergerus.

Sinergi BPBD dan Distribusi Tangki Air
Meski didera berbagai kendala, Lestariana memastikan pelayanan air bersih tetap terkendali. Hal ini sejalan dengan instruksi Bupati Buleleng selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM) agar perusahaan tetap menjamin hak dasar masyarakat.

Sebagai langkah taktis, Perumda Tirta Hita merajut sinergi ketat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng. Armada tangki air dikerahkan untuk menambal kekurangan pasokan di lapangan.

“Untuk daerah-daerah layanan yang terdampak, kami saat ini memasok air menggunakan mobil tangki ke booster-booster (pompa pendorong) milik perusahaan,” terangnya.

Sementara itu, untuk penanganan darurat di permukiman, mekanismenya disesuaikan dengan kondisi. “Adapun penyaluran air langsung ke masyarakat menggunakan tangki biasanya kami lakukan saat ada penutupan aliran air sementara karena sedang ada perbaikan jaringan,” pungkasnya. *ndr

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *