BREAKING NEWS
Gunakan QR Code, Pertamina Uji Coba Full Cycle BBM Subsidi

Malam Perenungan, Lapas Perempuan Kerobokan Rayakan Siwaratri

Perayaan Siwaratri di Lapas perempuan Kerobokan.
Perayaan Siwaratri di Lapas perempuan Kerobokan. (foto/ist)
banner 120x600

BADUNG (terasbalinews.com). Bertempat di Aula serba guna Lapas Perempuan Kelas II A Kerobokan, petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) umat Hindu rayakan Malam Perenungan Dosa di dalam Lapas.

Hari Raya Siwaratri jatuh setiap setahun sekali berdasarkan kalender Isaka yaitu pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ke tujuh) sebelum bulan mati (Tilem), dalam kalender Masehi tahun ini jatuh di Jumat tanggal 20 Januari 2023.

Siwaratri memang memiliki makna khusus bagi umat Hindu, karena pada saat tersebutlah Hyang Siwa beryoga, sehingga menjadi hari baik bagi umat untuk melakukan brata semadi, penyucian dan perenungan diri serta melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Siwa.

Siwaratri berasal dari kata “Siwa” dan “Ratri”, dalam bahasa Sansekertha dimana Siwa berarti baik hati, memberikan harapan, membahagiakan dan suka memaafkan, Siwa juga adalah sebuah nama kehormatan manifestasi Tuhan yaitu Dewa Siwa yang berfungsi sebagai pelebur atau pemrelina.

Baca Juga:  Embat Barang Turis Jerman, WNA Algeria Dijebloskan ke Sel Mapolsek Kuta

Sedangkan Ratri dalam bahasa berarti malam atau kegelapan, sehingga jika diartikan Siwa Ratri (Siwaratri) berarti pelebur kegelapan untuk menuju jalan terang. Jadi apa sesungguhnya makna dari hari raya Siwaratri tersebut, maknanya adalah malam perenungan suci, malam dimana kita bisa mengevaluasi dan instropeksi diri atas perbuatan atau dosa-dosa selama ini, sehingga pada malam ini kita memohon kepada Sang Hyang Siwa yang juga sedang melakukan payogan agar diberikan tuntunan agar bisa keluar dari perbuatan dosa tersebut. Pada saat malam itulah umat melakukan pendekatan spiritual kepada Siwa untuk menyatukan Atman dengan Paramatman.

Di Lapas Perempuan Kerobokan sendiri, perayaan malam Siwaratri mengambil tema “Kita Mantapkan Sradha dan Bakti” dimana petugas dan warga binaan Hindu melakukan serangkaian kegiatan keagamaan yaitu, persembahan Palawakya, Pesantian, Persembahan Tari Janger, Menanyikan Lagu Rohani yang mana seluruhnya ditampilkan oleh warga binaan sebagai bentuk pembinaan dan pengembangan kreativitas dari warga binaan itu sendiri.

Baca Juga:  Togar Situmorang Ungkap Fakta Menarik di Sidang Dugaan Pencemaran Nama Baik

Kegiatan ini dihadiri Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia yang diwakilkan oleh Direktur Pendidikan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama R (Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag, MM),  Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar (Ida Bagus Ketut Rimbawan S. Ag) dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali yang diwakili oleh Kabid Pembinaan Bimtek Informasi (I Nyoman Mudana).

Dalam sambutan perwakilan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali menyebutkan bahwasanya perbedaan latar belakang agama, latar belakang suku, latar belakang budaya bukanlah, sekali lagi, bukanlah penghalang bagi kita untuk bersatu dan bukanlah penghalang bagi kita untuk hidup rukun dalam keharmonisan.

“Mengambil inspirasi dari hari Suci Siwaratri, Umat Hindu menyambut semangat baru untuk selalu meningkatkan kualitas diri, semangat untuk lebih produktif, semangat untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai modal mencapai kemajuan, bekal mencapai kemuliaan hidup,” ujarnya, Jumat (20/1/2023)

Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus pemberian Dharma Wacana tentang  makna hari raya Siwaratri dan bagaimana cara kita untuk meningkatkan dan memantapkan Sradha Bakti Kepada Ida Sang Hyang Widhi. “Malam siwaratri merupakan malam paling gelap, malam peleburan dosa, Sang Hyang Siwa beryoga samadi agar kestabilan dunia ini dapat terjaga begitupun kita sebagai manusia berkarmalah yg baik agar kita saling asah asih asuh dengan seluruh mahkluk didunia ini”, imbuh Jro Gede I Gusti Made Sunartha dalam dharma wacananya.

Baca Juga:  Togar - Pemilik Villa Sanctus Geram Layangkan Somasi ke Penyewa

Setelah itu dilaksanakan Persembahyangan bersama dan ditutup dengan berjapa Gayatri Mantram. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan protokol Kesehatan. (tbn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *