BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.

Usung Tema “Sakatilinganing Ambek” Sanggar Seni Asti Pradnyaswari Kelurahan Benoa Tampil di PKB ke-45

Penampilan Sanggar Seni Asti Pradnyaswari dari Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. (foto/ist)
banner 120x600

DENPASAR (terasbalinews.com). Sanggar Seni Asti Pradnyaswari dari Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, menjadi perwakilan Kabupaten Badung dalam Lomba Taman Penasar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV Tahun 2023. Acara ini diadakan di Wantilan Taman Budaya Art Center Bali pada Kamis (22/6/2023) dan melibatkan 22 seniman muda.

Menurut pembina, I Nyoman Wija Wedastra, tema yang diangkat dalam Lomba Taman Penasar adalah “Sakatilinganing Ambek”. Tema ini memiliki makna fokus dalam pemikiran untuk mendukung program pemerintah. Mereka berharap agar masyarakat ke depannya juga dapat memperkuat tradisi agar tetap berkembang.

Penanggungjawab dan Ketua Sanggar Seni Asti Pradnyaswari, I Wayan Sudiksa, menjelaskan bahwa “Sakatilinganing Ambek” terdiri dari kata “Sakatilinganing” yang berarti inti atau fokus, dan “Ambek” yang berarti pikiran atau tujuan. Berdasarkan inti dan fokus tersebut, mereka ingin mengajak semua orang untuk selalu berpikir positif guna mendukung dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, baik dalam dunia nyata maupun gaib.

Dalam cerita yang diangkat, diceritakan tentang sebuah desa pesisir pantai di mana sebagian besar penduduknya adalah nelayan atau bendega. Mereka bersiap-siap untuk belajar magegitan dalam sebuah pesantian, sambil belajar tabuh gambelan di balai (wantilan), untuk mengiringi pujawali atau upacara piodalan di Pura Bendega sebagai tempat peribadatan para nelayan.

Namun, di tengah seriusnya latihan, sekaa santi yang dipimpin oleh Jero Kelian Santi terkejut oleh keluhan salah satu anggota yang menyatakan kekecewaannya karena kesulitan ekonomi dan kegagalan dalam mencari nafkah di tengah laut. Masalah ini kemudian menjadi topik pembicaraan serius bagi sekaa pesantian untuk mencari solusi.

Dalam memberikan pengertian, mereka juga menggunakan ungkapan-ungkapan dari kakawin, palawakia, sloka, sekar rare, kidung, dan tembang geguritan yang dipilih dan disesuaikan dengan alur cerita. Akhirnya, mereka berhasil menemukan solusi yaitu mengajak semua orang untuk bersama-sama menjaga kebersihan laut dan lingkungannya agar kehidupan laut dapat berkembang dengan baik.

“Niscaya laut pun pasti akan memberikan kesejahteraan pada umat manusia. Maka, mari kita muliakan pantai dengan prinsip Segara Kerthi, Prabaneka Sandi (Samudra cipta peradaban)” jelasnya.

Mereka merasa bangga dapat mewakili Kabupaten Badung dalam Lomba Taman Penasar ini. Persiapan untuk tampil dalam PKB dilakukan selama 3,5 bulan dengan menjadwalkan latihan 3 kali seminggu.

“Kami sangat bangga karena diberi kesempatan untuk mewakili Badung. Kesempatan seperti ini tidak diberikan kepada semua orang. Justru kami memiliki kesempatan luar biasa untuk mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya yang sangat berharga ini,” ungkapnya dengan bangga. (*/tbn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *