BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.

Kendalikan Inflasi Daerah Pemkab Badung Lakukan Budidaya Bawang Merah di Subak Munggu

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan  Kabupaten Badung, Dr. I Wayan Wijana, S.Sos., M.Si. (foto/tbn)
banner 120x600

BADUNG (terasbalinews.com). Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan melakukan upaya pengembangan bawang merah melalui Anggaran APBD Tahun Anggaran 2023 seluas 1 hektar di Subak Munggu, Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Jumat (14/7/2023).

“Beberapa komoditi pertanian mendapat perhatian serius dari pemerintah, salah satunya bawang merah yang merupakan produk unggulan nasional yang keberadaannya sering memicu inflasi,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan  Kabupaten Badung, Dr. I Wayan Wijana, S.Sos., M.Si., mewakili Sekda Badung.

Menurut Wijana, dipilihnya bawang merah lantaran masih kurangnya ketersediaan produksi bawang merah khususnya diluar musim atau di musim penghujan yang menyebabkan petani enggan melaksanakan budidaya bawang merah.

Berangkat dari sinilah lantas Pemkab Badung berinisiatif malakukan budi daya bawang merah dengan melibatkan 32 petani di Subak Munggu. Para petani dalam pelaksanaannya diberikan bahan pengembangan berupa benih bawang merah, kapur pertanian, pupuk organik, pupuk NPK, pupuk ZA, Trichoderma, insektisida, fungisida dan mulsa hitam.

“Selain bahan-bahan yang kami berikan, petani secara teknis juga diberikan kesempatan untuk bertemu dengan narasumber dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Bali, yang merupakan bagian dari pendampingan,” ujarnya.

Lantas Wijana juga menguraikan data statistik pertanian yang dimiliki menunjukkan, tahun 2022 luas tanam bawang merah seluas 0,75 hektar dengan luasan panen 0,75 hektar (umbi basah) yang setara dengan 187,5 kg umbi kering.

Dengan dilakukan budi daya bawang merah Wijana berharap ketersediaan produksi bawang merah yang pada bulan tertentu, khususnya di musim hujan yang kurang tersedia dan berpengaruh terhadap kenaikan harga, minimal bisa teratasi.

Dari tempat yang sama, salah seorang petugas dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP., menyatakan tugasnya mengarahkan menanam bawang yang baik dan benar supaya hasilnya optimal.

“Tahun ini kita bekerjasama dengan Pemkab Badung menanam bawang merah varitas Philip, yang sangat ideal dibudidayakan pada lahan seperti ini, dataran rendah,” katanya, seraya berujar pihaknya telah memberikan panduan dari awal penanaman hingga panen serta pengendalian hama/penyakit.

“Masa panen 60 hari tentu sangat bagus untuk dikembangkan di daerah yang alih fungsi lahannya tinggi,” tukasnya.

Kemudian ia mengilustrasikan kalau bawang menghasilkan 100kg/are, dikalikan Rp 20 ribu mendapat Rp 2 juta, biaya sekitar 60 % atau Rp 1.2 juta. Jadi bisa dikatakan petani memperoleh hasil Rp 800/are.

“Tentu ini sangat menjanjikan hasil yang akan diperoleh petani, dan sangat cocok dikembangkan untuk lahan sempit,” katanya, seraya berharap kluster-kluster semacam ini perlu dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah daerah dalam upaya penyediaan pangan daerah. (*/yak)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *